By Fitria Nurkomariah April 21, 2022 161

Tips Mencegah Silent Treatment yang Berefek sampai Kena Mental

 

Pernahkah pasangan kamu memilih untuk tidak berbicara dan menghiraukanmu saat sedang bertengkar? Ia mendengar apa yang kita bicarakan namun memilih untuk acuh dan sibuk melakukan kegiatannya sendiri. Tindakan seperti ini adalah bentuk dari silent treatment.

Silent treatment adalah sikap ketika seseorang lebih memilih untuk diam dan mengabaikan orang yang sedang berkonflik dengannya.  Tindakan seseorang merasa marah, frustrasi, atau terlalu kewalahan untuk menghadapi suatu masalah. Jika ketegangan sudah berlalu, maka silent treatment juga akan berlalu.

Lalu hal apa yang membuat seseorang melakukannya?

Beberapa alasan yang membuat seseorang melakukan tindakan silent treatment, yaitu antara lain:

  • Pada sebagian orang, tetap diam dalam percakapan adalah karena mereka tidak tahu harus berkata apa atau ingin menghindari konflik.
  • Seseorang bisa menggunakan tindakan ini sebagai cara berkomunikasiJadi mereka tidak tahu bagaimana mengekspresikan perasaan mereka tetapi ingin pasangannya tahu bahwa mereka kesal.
  • Seseorang menggunakan silent treatment untuk menghukum seseorang atau melakukan kontrol atau kekuasaan atas mereka.

Melansir Medical News Today, pria dan wanita memiliki kecenderungan yang sama untuk melakukan hal ini. Maka dari itu agar tehindar dari hal ini, komunikasi yang jelas adalah hal yang penting agar hubungan tetap sehat. Pasalnya, tindakan ini malah bisa membuat salah satu pihak jadi tidak memiliki kemauan untuk menyelesaikan konflik dengan cara yang benar. 

Meskipun pelaku silent treatment tersebut hanya berusaha menghindari konflik, sebenarnya silent treatment dapat berdampak pada kesehatan suatu hubungan. Seseorang dengan pasangannya yang kerap melakukan silent treatment biasanya lebih cenderung melanjutkan perselisihan karena mereka belum memiliki kesempatan untuk membahas penyelesaian keluhan mereka lebih dalam. Walau terkadang diam mungkin adalah hal terbaik untuk menghindari kedua belah pihak mengatakan hal-hal yang nantinya akan mereka sesali.

Jika perlakukan ini terjadi berulang kali, dampak tersebut bisa berkembang menjadi berbagai masalah kesehatan, seperti fibromialgia, gangguan makan, sindrom kelelahan kronis, kecemasan, hingga depresi. Masalah yang terus menumpuk dan berlarut-larut juga dapat menciptakan toxic relationship, kurangnya keintiman, komunikasi yang buruk, bahkan bisa berakhir dengan perpisahan. Hal ini juga bisa berujung pada ghosting.

Tentunya cara menghadapi silent treatment tidak mudah. Namun, terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi kondisi ini. Berikut cara yang bisa dilakukan:

1. Jelaskan Situasi dengan Pendekatan Secara Baik-baik

Melakukan pendekatan dengan cara lembut dan baik-baik bisa menjadi cara untuk meredam sikap ini. Katakan padanya bahwa kamu ingin mengetahui alasan mengapa sikapnya menjadi dingin. Kamu bisa menjelaskan kondisi yang terjadi kepada orang yang melakukan silent treatmen dengan membuat ia sadar bila mendiamkan seseorang tidak membantu mengatasi konflik sama sekali. Hal ini justru membuatmu merasa kesepian, frustasi, dan melukai perasaanmu.

2. Gunakan Kata “Saya” 

Penggunaan kata “saya” saat berkomunikasi dengan orang lain dapat menekankan fokus terhadap apa yang kamu rasakan atau percaya. Kamu bisa menyatakan kalimat persuasif dan menjelaskan perasaan dengan mengatakan,“Saya tahu kalau kamu tidak akan menanggapi saya. Tapi untuk menyelesaikan konflik, kita harus komunikasi dan berbicara dengan baik”. Atau misalnya dengan mengatakan “Saya sedih saat kamu tidak mau berbicara dan saya ingin tau bagaimana cara menyelesaikan kondisi atau konflik ini.

3. Memvalidasi Perasaan Orang Tersebut

Cara menghadapi silent treatment selanjutnya adalah meminta orang tersebut bercerita tentang apa yang ia rasakan. Gunakanlah cara ini untuk membuka suatu obrolan untuk menyelesaikan konflik yang ada. Namun, hindari mengkritik ataupun mencoba memberi saran. Kamu hanya perlu ada mendengarkannya dan mengerti perasaannya dengan baik.

4. Beri Waktu Kepada Orang Tersebut

Jika ia masih mengabaikan dan belum merespons, berikanlah ia waktu untuk bisa mengendalikan dirinya sendiri. Menurut psikolog Ikhsan, diam merupakan salah satu cara seseorang untuk mengekspresikan emosinya. Diam juga dapat menjadi tanda bahwa ia sedang marah. That’s why biarkan orang tersebut memproses emosinya hingga tenang. Lalu, cobalah atur waktu ajak orang tersebut untuk berbicara masalah yang terjadi, jika dirinya sudah tenang. Karena apabila kita paksa ajak bicara, emosinya makin intens atau dia merasa tujuan untuk menghukum kita dengan silent treatment tercapai.

5. Bersikap Tenang

Silent treatment kadang kala dapat memicu emosi dan perasaan marah. Namun, kamu juga harus bersikap tenang agar tidak memperburuk situasi dan ada baiknya kamu tidak terbawa emosi, ya. Meskipun masalah yang terjadi bukan sepenuhnya atas kesalahanmu, cobalah untuk mengalah dan menurunkan egomu. Minta maaflah dengan tulus dan katakan padanya bahwa kamu tidak akan mengulanginya lagi.

6.  Meminta Maaf

Seseorang yang melakukan silent treatment untuk tidak merespons ucapan atau tindakan kamu merupakan pilihannya. Jadi, jangan pernah menyalahkan diri sendiri apabila ada orang yang melakukan silent treatment kepada kamu. Namun, jika pemicu silent treatment karena kamu mengucapkan kalimat atau berperilaku secara tidak sengaja hingga membuatnya sakit hati, maka kamu harus meminta maaf kepada orang tersebut.

Nah,  itulah tadi cara menangani silent treatment yang bisa kamu lakukan. Jika semuanya sudah membaik, kamu dan dirinya sebaiknya mendiskusikan bagaimana cara meningkatkan komunikasi yang baik di antara kalian berdua. Dengan begitu, sikap silent treatment bisa dicegah di kemudian hari dan tidak akan terjadi kembali.

 

 

 

Source by:

https://www.alodokter.com/dampak-silent-treatment-dan-cara-menanganinya

https://www.halodoc.com/artikel/mengenal-silent-treatment-dan-efeknya-pada-sebuah-hubungan

https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/3654253/penyebab-dan-cara-menghadapi-silent-treatment