By Anis Afifatul Azizah December 18, 2022 19

Mau Nikah Pakai Adat Jawa? Catet Nih Urutan Acaranya!

Proses akad nikah dan pernikahan adalah proses yang sakral dan khidmat. Oleh karena itu biasanya pengantin melakukan pernikahannya dengan berbagai macam proses adat. Salah satunya adalah adat Jawa. 

Sekarang mungkin kamu sudah sering melihat proses pernikahan dengan adat Jawa ini, apalagi zaman sekarang banyak pernikahan selebriti yang disiarkan secara langsung di televisi, jadi kamu bisa melihat prosesnya. 

Tapi pernah berfikir tidak siaran pernikahan selebriti itu kenapa bisa berhari-hari? Padahal hanya tinggal akad dan resepsi saja bukanya sudah selesai? 

Bukan berati seperti itu loh sobat, proses pernikahan terutama yang menggunakan adat biasanya memang ada rangkaian acara tertentu. Kali ini kita akan membahas tentang proses pernikahan dengan adat Jawa. Mau tau prosesnya? Simak sampai selesai ya!

1. Semaan atau pengajian
Pengajian biasa dilakukan oleh keluarga yang beragama Islam. Biasanya, dalam pengajian, pengantin akan memohon doa restu orang tua. Jika kamu nonis maka tidak perlu menggunakan simaan atau pengajian. 
Biasanya proses ini dilakukan H-3 atau H-2 menjelang pernikahan. 

2. Pasang tarub, bleketepe, dan tuwuhan
Setelah pengajian, upacara akan berlanjut ke pemasangan tarub, bleketepe, dan tuwuhan. Tarub diartikan sebagai peneduh di halaman rumah berhias janur.Tarub  juga memiliki arti sebagai atap sementara atau peneduh rumah. 

Sementara bleketepe merupakan anyaman yang terbuat dari daun kelapa tua. Bleketepe jadi simbol penyucian diri. Pemasangan tarub dan bleketepe ini dilakukan berbarengan sebagai tanda adanya pernikahan. 

Sementara tuwuhan berarti hasil pertanian yang dipasang dan disusun seperti pagar. Tuwuhan biasanya terdiri dari pisang raja, aneka dedaunan, dan janur.

Pemasangan tarub, bleketepe dan tuwuhan berisi harapan pasangan yang akan segera menikah. Diharapakan calon pengantin memperoleh keturuan yang sehat, berbudi baik, berkecukupan dan selalu bahagia.

3. Siraman
Siraman memiliki makna penyucian fisik dan batin dari masing-masing calon mempelai. Siraman harus dilakukan oleh orang tua dari calon mempelai atau orang yang dituakan dalam keluarga masing-masing. Proses dimulai dari orang tua kandung hingga tujuh sepuh di atasnya.

Siraman dilakukan secara terpisah, baik di kediaman calon mempelai wanita dan calon mempelai pria.

Air yang digunakan sebagai air siraman biasanya diambil atau berasal dari 7 sumber mata air yang berbeda, yang dimasukkan dalam 1 bejana dan ditambah dengan aneka kembang setaman. 

4. Bopongan
Prosesi bopongan dilakukan oleh kedua orang tua calon pengantin. Lewat prosesi ini, kedua orang tua menggambarkan rasa sayang dan kerelaan mereka untuk melepas anak-anaknya yang akan menikah.

Bopongan biasanya dilakukan setelah prosesi siraman usai. Bopongan dilakukan oleh seorang ayah yang menggendong putrinya atau calon mempelai wanita menuju kamar.

5. Sadean dawet
Dalam prosesi siraman, ada pula tradisi dodol dawet atau berjualan dawet. Ibu dari calon pengantin akan berjualan sambil dipayungi sang suami. Namun, berjualan di sini tak menggunakan uang sesungguhnya, melainkan dengan kreweng atau koin yang terbuat dari tanah liat sebagai alat tukar.
Selama prosesi berlangsung ibu akan melayani pembeli dan ayah akan menerima pembayarannya. Ini memiliki arti mengajarkan calon pengantin untuk mencari nafkah dan saling membantu.

6. Midodareni
Umumnya, ritual midodareni dilaksanakan di malam jelang upacara pernikahan. Midodareni berasal dari kata 'widodari' atau dalam bahasa Jawa berarti bidadari.
Malam midodareni diyakini sebagai waktu turunnya bidadari untuk menemui calon mempelai wanita. Bidadari akan membantu mempercantik calon mempelai sekaligus memberikan wejangan seputar pernikahan.

Menurut budayawan Jawa Irfan Afifi, dulunya calon pengantin benar-benar harus 'dikurung' di dalam kamar selama malam midodareni.
Namun, midodareni masa kini berlangsung cukup berbeda. Beberapa keluarga memperbolehkan kedua calon mempelai bertemu. Kemudian kesempatan ini juga digunakan untuk rapat panitia pernikahan dalam situasi yang lebih santai dan cair.


7. Akad nikah
Prosesi akad nikah merupakan prosesi paling sakral dalam sebuah pernikahan. Dalam agama Islam, akad nikah dilakukan dengan mengucapkan ijab kabul di depan penghulu dan saksi.

8. Pamitan
Pamitan adalah proses meminta restu kepada kedua orang tua untuk pergi dan menjalani kehidupan yang baru bersama pasangan hidupnya. Prosesi ini biasanya dilakukan usai akad nikah berlangsung.

9. Ngunduh mantu
Dalam bahasa Jawa, 'ngunduh' memiliki arti panen atau memanen. Sementara 'mantu' adalah menantu. Prosesi ini menandakan keluarga mempelai pria yang memiliki menantu perempuan baru.

Sebagai prosesi pelengkap, pesta lanjutan ngunduh mantu ini dijadikan momentum sebagai cara keluarga pengantin pria untuk memberi tahu kepada sanak saudara bahwa mereka memiliki anggota keluarga baru.